9 Agustus 2021 - 09:32
Iran ke G7: Republik Islam Iran Tidak Ragu Pertahankan Kedaulatannya di Teluk Persia

Petualangan rezim Zionis baru-baru ini atas insiden kapal Mercer Street menunjukkan lapisan lain dari skenario multi-tujuan Barat terhadap Republik Islam Iran.

Menurut Kantor Berita ABNA, Mengikuti skenario ini, para menteri luar negeri negara-negara G7, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (06/08/2021), tanpa memberikan bukti yang diperlukan, menuduh Iran terlibat dalam serangan ini.

Menanggapi pernyataan menteri-menteri luar negeri G7, Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menilai tujuan dari skenario tak berdasar seperti itu, yang biasanya rezim Zionis berada di baliknya, adalah untuk mengganggu suasana politik di kawasan.

Dalam hal ini, Zionis Israel dan para pendukungnya juga memberikan informasi palsu tentang peristiwa baru-baru ini di perairan kawasan kepada Dewan Keamanan sehingga mereka mungkin dapat mengutuk Iran dengan pertunjukan itu, tetapi mereka gagal.

Tiga tahun lalu, dalam skenario serupa, sejalan dengan kebijakan Iranophobia, Dubes AS untuk PBB mengundang duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan ke Washington untuk membahas apa yang disebutnya "bagian-bagian rudal yang dikirimkan dari Iran ke anggota gerakan Ansarullah Yaman ditunjukkan pada mereka.

  • Baca juga: Tanker Minyak yang Dioperasikan Israel Diserang di Lepas Pantai Oman

Namun, tak lama kemudian, New York Times, mengutip pejabat Pentagon, membantah tuduhan terhadap Iran. Tampaknya tidak ada akhir untuk pengulangan drama politik ini.

Surat kabar Independent mengutip Amos Harel, seorang analis di Haaretz Israel yang mengatakan, "Perang laut "dimulai oleh Israel, bukan Iran" dan Israel telah menyerang kapal tanker yang membawa minyak Iran ke Suriah selama dua tahun terakhir. Serangan laut adalah bagian dari doktrin terkenal Israel yang disebut "perang di antara berbagai perang", yang menjadi bagian dari strategi tentara Israel setelah perang 2006 dengan Hizbullah."

Padahal, rezim ini telah menjadi sumber utama ancaman, ketidakstabilan, dan ketidakamanan di kawasan selama lebih dari tujuh dekade dengan dukungan Amerika Serikat dan Inggris. Sekarang yang menjadi pembahasan utama adalah tujuan dari mereka yang menciptakan ketidakamanan di kawasan.

Petualangan rezim Zionis baru-baru ini atas insiden kapal Mercer Street menunjukkan lapisan lain dari skenario multi-tujuan Barat terhadap Republik Islam Iran.

Sementara itu, sebuah isu yang telah membangkitkan keprihatinan kaum zionis adalah kebuntuan AS untuk terus memberikan tekanan maksimum pada Iran. Faktanya, Amerika Serikat tidak punya pilihan selain mematuhi hak-hak rakyat Iran.

Dengan kata lain, Washington tidak dalam posisi untuk memainkan kartu sanksi yang gagal dan negosiasi JCPOA demi memaksakan tuntutan berlebihannya pada Iran. Karena itu, jika Zionis Israel berada di bawah ilusi bahwa ia dapat kembali ke zaman keemasan dengan skenario yang berulang-ulang, berarti mereka telah membuat kesalahan perhitungan yang besar.

  • Baca juga: Komandan IRGC Iran: Jika Berbuat Kesalahan, Israel Akan Runtuh

Situs Noor News menulis dalam sebuah analisis, "Israel tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran. Karena tindakan gila seperti itu akan membuka jalan bagi serangan komprehensif terhadap rezim Zionis serta penghancuran semua infrastruktur, fasilitas militer dan ekonominya dalam waktu sesingkat mungkin."

Pernyataan Mayor Jenderal Hossein Salami, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), selama pertemuan dengan Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon pada hari Sabtu (7/8), menunjuk pada poin yang sama. Mayjen Salami menekankan, "Kapasitas bagi keruntuhan rezim Zionis sudah tersedia dan tinggal menunggu saja jika mereka berbuat kesalahan."

Ini mengirimkan pesan bahwa Iran dengan memiliki garis pantai terbesar di Teluk Persia dan Laut Oman, menganggap perdamaian dan stabilitas, kebebasan navigasi dan keamanan kawasan sebagai prinsip yang tidak dapat disangkal. Iran tidak akan pernah membiarkan agresor menundukkan keamanan dan kebebasan navigasi dalam petualangan mereka.

342/